Kamis, 08 Oktober 2009

Golkar Masih Seperti yang Dulu

Menarik ketika saya menyaksikan Musyawarah Nasional Golkar ke VIII yang diselenggarakan di Pekanbaru,Riau. Acara yang berlangsung dari 5-7 Oktober 2009 ini disiarkang live oleh tiga stasiun televisi swasta. Metro TV, TV One, dan Anteve yang menghadirkan hajat 5 tahunan partai berlambang pohon beringin tersebut.
Sejak hari pertama, Munas Golkar ramai menjadi pemberitaan pelbagai media massa. Hal ini lumrah dikarenakan Golkar merupakan salah satu partai terbesar di Negeri ini. Seperti halnya pada pemilu lalu, survei-survei juga dilakukan pada munas golkar untuk memprediksi siapa pimpinan Golkar berikutnya menggantikan Jusuf Kalla. Aburizal Bakrie, Yudi Chrisnandi, Surya Paloh, dan Tommy Soeharto tercatat sebagai bakal calon pimpinan partai Golkal pada munas VIII.
Menjadi menarik saat terjadi kericuhan di Munas tanggal 7 Oktober, yaitu pada hari pemilihan pimpinan Golkar. Suasana panas tejadi ketika pimpinan munas, Fadel Muhammad, menyatakan DPD Kep. Seribu dan DPD Langkat tidak mempunyai hak pilih, atau nol suara. Perwakilan DPD Kep. Seribu sontak memprotes keputusan tersebut dengan nada cukup Keras. Disusul teriakan-teriakan 'keluarkan, keluarkan, ,' dari anggota munas lain.

Masih Seputar Uang dan Kekuasaan
Media cetak dan para pengamat menganggap munas Golkar ke VIII sarat dengan politik uang kekuasaan dan kekuatan jaringan. Seperti yang diberitakan pada Kompas(9/10/2009), Aburizal Bakrie, Surya Paloh, dan Tommy Soeharto merupakan orang yang memiliki uang, dan kekuasaan. Namun Tommy Soeharto sejak awal dianggap bukan calon serius yang dapat dijadikan alternatif pimpinan Golkar. Yudi Chrisnandi, meski terbilang muda dan ideologis, tidak diperhitungkan, karena tidak memiliki uang atau kekuasaan.
Kompetisipun menciut menjadi antara Aburizal Bakrie dan Surya Paloh. Aburizal dengan pernyataannya 'tidak oposan atau koalisi', versus Surya Paloh untuk 'Golkar yang baru'. Persaingan ini menjadi tidak mengejutkan bagi beberapa pihak. Keduanya dinilai yang paling 'pantas' menjadi calon pimpinan Golkar, karena memiliki Uang, kekuasaan, dan jaringan.

Bakrie Punya Segalanya
Aburizal Bakrie akhirnya menjadi pemenang dalam Munas Golkar. ia mengungguli suara Surya Paloh dan 2 calon lain. Terpilihnya Aburizal ini sangat menguatkan dugaan berbagai pihak akan adanya politik uang di Munas Golkar.
Aburizal yang mengungguli pesaingnya dianggap punya segalanya, bisnis dari sektor hulu hingga hilir, jaringan kekuasaan yang terkoordinasi dengan baik, serta kemampuan memobilisasi dukungan.
Sangat disayangkan karena partai Golkar yang ingin merubah ideologinya, ternyata kembali harus mengamini bahwa yang memiliki uang dan kekuasaan yang lebih banyaklah yang patut jadi pimpinan. Hal ini tidak ubahnya golkar pada masa orde baru, dimana mereka berjaya dan lahir karena sebuah rezim serta kekuasaan
Golkar di bawah aburizal nampaknya akan tetap memberi image pada masyarakat menjadi sebuah partai sarat kepentingan, uang serta kekuasaan. Sama seperti yang telah dulu mereka lakukan.(Mobile Upload)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar