Rabu, 23 September 2009

Seputar Lebaran : Bandung (Memang) Macet !

Ahad lalu (20 September 2009), sebagian besar umat muslim dunia merayakan hari kemenangan lgi penuh kebahagiaan, Idul Fitri 1430 H. Di Indonesia, idul fitri kali ini dirayakan secara bersamaan bagi jamaah muhamadiyah maupun Nahdathul Ulama (NU). Hal ini tentu menjadi berkah tersendiri bagi masyarakat muslim Indonesia karena setidaknya pertentangan dapat diminimalisir.

Seperti tradisi hari raya idul fitri sebelumnya, tahun 2009 kali ini juga dimanfaatkan masyarakat untuk bersilaturahmi ke kampung halaman, atau dikenal dengan istilah mudik. Beberapa daerah di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan propinsi-propinsi besar lain menjadi tujuan mudik. Berbagai media massa menjadikan liputan mudik sebagai headline dan produk unggulan. Antrian orang di stasiun, menumpuknya pemudik di pelabuhan, kemacetan kendaraan pribadi, hingga kecelakaan di jalur mudik menjadi prioritas pemberitaan media.

Bagi masyarakat tanpa mudik seperti saya, pemberitaan-pemberitaan mengenai liputan lebaran seperti itu “belum terbukti” kebenarannya. Masyarakat tanpa mudik tidak memiliki “kampung” seperti kebanyakan orang. Atau untuk berkunjung ke rumah sanak saudara tidak memerlukan waktu yang lama ayau menempuh perjalanan yang jauh.

Mereka yang tidak mudik banyak yang memilih menghabiskan libur lebaran dengan berkunjung ke berbagai objek wisata. Kebun binatang, pantai, dan mal menjadi pilihannya. Televisi banyak memberitakan bahwa pengunjung membludak di berbagai tempat wisata baik pantai, mal, maupun kebun binatang. Meski begitu tetap saja masyarakat tidak takut untuk berjubel, berdesakan, ditambah panas-panasan.

Bandung sebagai salah satu kota tujuan wisata juga tidak lepas dari “seggesti” pemberitaan. Di beberapa titik di pusat kota terjadi kemacetan. Jalan Cihampelas, Setiabudi, juga Jalan Riau terjadi penumpukkan kendaraan yang mengakibatkan kemacetan parah. Untuk menempuh jarak 100 meter saja dibutuhkan waktu sekitar 15 menit! Kemacetan ini tidak lain terjadi karena di lokasi-lokasi tersebut banyak terdapat factory outlet dimana banyak masyarakat berbelanja pakaian.

Bandung melengkapi “skenario” kemacetannya dengan berbagai sajian kuliner khas Bandung. Banyaknya mobil yang keluar masuk parkir restoran juga berkontribusi menyebabkan kemacetan. Namun, kemacetan parah tersebut sepertinya tidak bisa meredupkan suasana keceriaan lebaran. Warga masyarakat tetap antusias. Para pemudik rela bermacet-macetan, dan yang tidak mudik rela berdesak-desakan. Selamat berlebaran Indonesia.

1 komentar:

  1. Komentar : Luth, nie lebih deket ke Opini, artikel tulisan lepas lebih pas, bukan berita murni. Ingat 5 W + 1 H, alangkah baiknya jika berita momen lebaran seperti kali ini, pendekatan Human Interest...untuk berita soft news.

    BalasHapus